Rabu, 26 September 2012

Catatan Hati Seorang Istri | Asma Nadia



Judul : Catatan Hati Seorang Istri
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Lingkar Pena

Harga resmi : 36.000


Saat cinta berpaling
dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil saat prahara terjadi
saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri
kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati mampu terus bertasbih?

...
Telah lama saya meneropong; tidak hanya ke dalam hati
sendiri, melainkan mencoba masuk ke bilik hati perempuan
lain, lewat kisah-kisah yang mereka bagi kepada saya.
Selama bertahun-tahun pula saya mencatat berbagai kisah
itu dalam ruang hati, seraya berharap suatu hari bisa
menuliskannya.


Catatan Hati Seorang Istri, memuat sebagian kecil
peristiwa itu. Isinya kisah-kisah yang mengharu biru dan
membuat saya ternganga. Sebab ternyata betapa dahsyat
kekuatan yang dimiliki perempuan, sosok yang seringkali
dianggap lemah, tidak berdaya, dan pada tataran tertentu
sering hanya dianggap sebagai rnahluk nomor dua.
Buku ini, meski tidak begitu banyak, merekam
perjalanan saya sebagai perempuan, istri dan ibu dari dua
orang anak. Juga pengalaman, dialog hati, pertanyaan dan
ketidakmengertian saya tentang isi kepala dan sikap lakilaki.
Kekecewaan, kemarahan dan kesedihan bahkan
keputusasaan yang tergambar, mudah-mudahan dapat
sedikit mewakili potret sebagian perempuan (baca: istri).
Demi menghargai nara sumber, beberapa detil sengaja
saya samarkan, namun pada intinya tidak mengurangi
esensi cerita.
Harapan saya Catatan Hati Seorang Istri, bisa membawa
pembaca pada kesiapan yang lebih baik, ketika kita (dan
bukan cuma tokoh-tokoh dalam buku ini) mendapat ujian
serupa. Bukankah ujian itu Allah pergilirkan pada tiap-tiap
hamba?
Cinta yang lepas dari genggaman?
Orang tercinta yang selama bertahun-tahun selalu di sisi
kita, kemudian Allah memintanya untuk kembali ke
haribaan-Nya. Siapkah?
Ikhlaskah? Siapkah secara iman?
Pemikiran demikian membuat saya takut. Khawatir akan
iman dan keikhlasan yang tidak seberapa. Ragu akan
kemandirian, karena bertahun-tahun saya merasa
dimanjakan dan menjadi tergantung kepada pasangan
dalam banyak hal. Kesiapan menghadapi apapun takdir-
Nya, sungguh bukan perkara mudah.
Mengingat hidup selalu memiliki warna yang berbeda,
saya mengajak kepada sesama perempuan untuk mulai
menulis. Catat tidak hanya kenangan indah, tetapi juga
semua pikiran, beban perasaan, kesedihan, ketakutan, apa
saja, sebelum terlambat untuk menuliskannya.
KDRT yang semakin marak, hingga tak jarang
merenggut nyawa seorang istri.
Ibu menghabisi anak kandungnya justru karena cinta…
Sungguh batin saya seperti dikoyak melihat semua
tragedi yang melibatkan perempuan. Karenanya saya ingin
kita sama-sama berjanji. Berjanji untuk mencari teman
bicara. Berjanji untuk mencoba menuliskan setiap
kegelisahan yang kita alami. Berjanji untuk menjadikan
tulisan itu cermin dan renungan, sebab mungkin itu akan
membawa kita pada jalan keluar, yang sebelumnya terasa
teramat buntu.
Kaitlyn, Aliet Sartika, Nejla Humaira, mbak Ya-yu, dan
Ida Azuz. Mereka telah memulai dan mengisi ruang yang
belakangan ini selalu saya sisipkan dalam buku-buku
terbitan Lingkar Pena. Buat perempuan yang lain, sungguh
saya menunggunya.
Ah. Kini waktunya berdoa dan meminta kepada-Nya
lebih sering. Sebab semakin hari, saya menyadari
kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah sedemikian
besarnya. Semoga Allah memberi kekuatan bagi semua
semua harnba-Nya, khususnya para perempuan. Amin.
Salam
Asma Nadia

0 komentar:

Poskan Komentar